Hujan Dimalam Takbir

Hujan dimalam takbir
Sahutan asma sang maha Sempurna
memecah gerimis dan sunyi jiwa
bangunkan setiap keputus asaan rasa

Hujan dimalam takbir
ingatkan tuk senantiasa merendah
ingatkan setiap sedekah
lukiskan amalan yang indah
alirkan do’a yang tertadah
bangkitkan jiwa yang lelah
tenangkan hati yang gundah
torehkan semangat pantang menyerah
tuliskan ba’it-ba’it tentang ibadah
satukan simfoni sabar dan pasrah
nafaskan setiap hal benar maupun salah
renungkan setiap hal yang terlimpah

Hujan dimalam takbir
sahutan syahadat selimuti kalbu
diantara jutaan tetesan pilu
lancarkan setiap iba dan kelu
mengharap semua pengarapan-Mu
mengucap semua do’a dari-Mu
melengkapi tali kehidupan yang tak menentu
esok hari menjanjikan hal yg baru
bersama menuju kekhusyukan selalu

terucap dalam kidung do’aku

Iklan

Dengarlah Irama Malam

Irama malam
Dengar sayup irama malam
dawai – dawai ketenangan
memperkuat kinerja fikiran

dengar sayup irama malam
petikan awan cahaya bulan
temani mimpi dan kelelahan
goreskan sebuah senyuman

dengar kembali irama malam
dentuman detak kegelisahan
derap teratur ketenangan
terlelap tenang irama malam

Simo Hayha Profile


Simo Hayha hanyalah seorang petani dan pemburu yang telah melewati masa wajib militer 1 tahunnya. Ketika Uni Soviet menyerang Finlandia di tahun 1939, dia memutuskan untuk membantu kampung halamannya.Karena area perperangan kebanyakan di dalam hutan,Hayha menentukan taktik terbaik adalah dengan bersembunyi di pepohonan ditemani sepucuk senapan dan beberapa kaleng makanan.

“The White Death”, nama yang diberikan oleh tentara Russia ketika mengetahui puluhan pasukan mereka tewas oleh hanya seseorang dengan pakaian kamuflase putih dan sepucuk senapan. Kecemasan mulai melanda pasukan Russia dan misi-misi pun dijalankan hanya untuk membunuh seorang penembak jauh misterius.

Ketika pasukan khusus yang dikirim Russia untuk menghabisi Hayha semua tewas, Russia mengumpulkan sebuah tim counter-snipers untuk mengimbangi kemapanan Hayha dalam menembak jauh (sniper VS sniper). Namun tidak ada satu pun dari mereka yang selamat dari bidikannya. Dalam masa 100 hari, Hayha membunuh 542 prajurit dengan senapannya. selebihnya dia habisi dengan SMG. Total kill-countnya mencapai 705 orang.

Pada akhirnya, tidak ada satupun prajurit Russia yang berani mendekati area-area dimana Hayha diperkirakan bersembunyi. Tentara Russia kemudian melaksanakan carpet-bombing di area-area yang diperkirakan sebagai tempat Hayha bersembunyi. Namun Hayha berhasil selamat dari taktik carpet-bombing Russia yang dilancarkan hanya untuk dirinya seorang.

Tanggal 6 Maret 1940, seseorang yang beruntung berhasil menembak Hayha di kepala dengan peluru peledak. Ketika ditemukan dan dibawa kembali ke markas, setengah dari kepala Hayha telah hancur The White Death telah berhasil dihentikan untuk waktu seminggu .

Hayha kembali siuman yang mengakibatkan dirinya mengalami trauma “shot-in-the-face syndrome” pada tanggal 13 Maret 1940, hari dimana perang berakhir. “Hayha kemudian melewati masa-masa tuanya sebagai pemburu dan peternak anjing setelah perang dunia kedua berakhir.